“Bahkan ketika imam tidak ada, iman umat tetap terjaga karena prosesi Semana Santa menjadi kekuatan penopang iman. Karena itu Semana Santa saat ini bukan menjadi milik orang Larantuka, tapi terbuka untuk siapa saja,” ucapnya.
Dia melanjutkan, prosesi Semana Santa ini pun terinspirasi dari Alkitab.
Hal ini tergambarkan pada berbagai perlengkapan atau ornamento yang turut diarak dalam proses Jumat Agung, diambil dari kitab suci seperti ukiran buah-buahan dari kayu melambangkan kejatuhan Adam dan Hawa yang tergoda untuk mencoba buah pengetahuan.
Contoh lainnya adalah tangan kayu yang disebut Tangan Diabo (setan) yang melukiskan tangan-tangan prajurit Romawi yang menganiayai Yesus.
Karena itu, dia berpesan kepada para peziarah dan juga umat Katolik di Larantuka, agar ketika mengikuti seluruh proses Semana Santa, dari awal hingga Minggu Paskah, mengalami pembaharuan dalam kehidupan imannya.
Perayaan Semana Santa tahun ini pun menurutnya terasa spesial karena bersamaan dengan pencanangan tahun yubelium yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus.
Umat Katolik memiliki kesempatan sepanjang tahun untuk pertobatan, pembaruan rohani, dan bersolidaritas.
“Apakah mengikuti Semana Santa membawa pertobatan?Jangan sampai biasa saja atau bawa kesan kurang bagus. Harus dimulai oleh tuan rumah harus tampakkan sesuatu yang positif, perubahan hidup imannya sehingga menjadi berkat. Ketika orang lain datang, lalu mereka pulang membawa sukacita dan pengalaman iman yang luar biasa,” tuturnya.















