Pemerhati sejarah dan budaya Larantuka, Fransiskus Roi Lewar menambahkan bahwa keberadaan Semana Santa di Larantuka, tidak dapat dilepaskan dari peran umat awam, dalam hal ini Raja Larantuka beserta serikat awam, Konfreria.
Mereka inilah, kata Roi Lewar, yang menjaga tradisi itu selama ratusan tahun, ketika Larantuka tidak memiliki seorang imam yang bisa memimpin umat di daerah itu.
Pasalnya, ketika itu, Portugis yang sudah terdesak oleh Belanda sehingga para imam dari negara itu tidak memiliki jadwal tetap untuk mengunjungi Larantuka.
“Semana Santa bisa eksis sampai hari karena karakteristik orang Larantuka yang berbudaya pantai, artinya terbuka. Makanya dari dulu, semana santa adalah hajatan raja yang kemudian dipelihara oleh serikat Konfreria yang melibatkan,” ulasnya.
Di masa lampau, terangnya, anggota Konfreria, merupakan kaum cerdik pandai yang mayoritas berprofesi sebagai guru.
Mereka ini dinilai memiliki kemampuan manajerial yang baik sehingga mampun menjalankan persiapan Semana Santa sejak 40 hari sebelum pelaksanaan tradisi itu.
Adapun Raldy Doi, tokoh penyiaran yang memoderatori diskusi mengatakan bahwa, obrolan ini merupakan satu dari rangkaian perbincangan yang diorgnisasikan oleh komunitas Larantuka Heritage.















