Namun disisi lain, lanjut Mahyudin, ada pula dampak negatif dari daerah perbatasan ini, terutama kejahatan-kejahatan sektor ekonomi. Misalnya saja penyelundupan barang-barang. Karena Keppri ini banyak pelabuhan-pelabuhan dan pulau kosong yang dijadikan jalur tikus. “Jadi perlu penanganan yang sangat hati hati, apalagi diketahui banyak pula armada perompak. Ini yang perlu dicermati,” ucapnya lagi.
Malah Mahyudin membeberkan pengalamannya saat bermain golf. Transaksi di situ lebih banyak menggunakan dolar Singapura. “Saya sempat marah dan tak mau bayar, karena dipaksa menggunkan dolar. Lho inikan negeri saya, bagaimanapun juga harus pakai rupiah. Saya baru paham, karena yang banyak menyewa lapangan golf itu ternyata orang orang Singapura,” paparnya.
Mahyudin tak membantah warga Singapura memang lebih kaya ketimbang warga Keppri. Jadi jangankan di lapangan golf, di pusat-pusat ekonomi misalnya pasar banyak yang menggunakan dolar Singapura. “Pembangunan perbatasan harus menjadi prioritas agar jangan sampai terjadi kesenjangan yang terlalu tinggi,” pungkasnya. ***













