“Saat ini masyarakat lebih rela ketinggalan dompet dibanding ketinggalan smartphone. Karena saat ini segala transaksi pembelanjaan, mulai dari memesan transportasi, bahkan makanan pun dapat dilakukan dengan smartphone,” ungkap Yonathan.
2. Social media commerce masih ada namun cenderung menurun
Tidak dipungkiri masyarakat Indonesia sangat aktif di sosial media. Berdasarkan laporan We are Social 2018, hampir setengah dari total populasi di Indonesia atau sekitar 130 juta merupakan pengguna aktif sosial media. Tak ayal, social media pun turut menjadi lapak para pelaku UMKM mempromosikan serta menjajakan jualannya kepada pengguna sosial media. Social media commerce ini masih akan tetap bermunculan, namun dalam porsi yang lebih sedikit. Perlahan pelaku UMKM yang berjualan di platform sosial media mulai merambah dan masuk ke dalam platform e-commerce.
“Nilai jual produk lokal yang cukup tinggi pada Harbolnas tahun lalu, membuat UMKM optimis dapat mengembangkan usahanya jika bergabung dengan platform e-commerce. Selain itu, kemudahan pendataan pemesanan serta marketing budget yang secara tidak langsung diberikan platform e-commerce menjadi alasan UMKM mulai mencoba bergabung di platform e-commerce,” ujar Yonathan.













