“Data tersebut semakin menegaskan bahwa batik berperan besar dalam ekonomi Indonesia dan menjadi sumber mata pencaharian khalayak banyak,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri batik agar semakin produktif dan inovatif.
Guna mencapai sasaran tersebut, Kemenperin aktif berkolaborasi dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI), untuk mempercepat transformasi industri batik agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman melalui inovasi dan penerapan teknologi.
“Kami mengimbau agar perajin dan pengusaha (IKM) batik agar senantiasa jeli melihat peluang di pasar domestik dan luar negeri, terutama untuk konsumen generasi muda,” ungkap Menperin.
Adapun inovasi dan teknologi industri batik yang kini sedang berkembang antara lain penggunaan kompor listrik batik, pengolah limbah cair skala kecil, katalog digital pewarna alam (Natural Dyes Indexation/NADIN), mesin motif batik digital, penerapan PLC (Programmable Logic Controller) untuk batik cap, dan pemanfaatan limbah sawit untuk pembuatan malam (lilin batik), serta pewarna alami.
“Penerapan inovasi dan teknologi pada industri batik akan berdampak signifikan terhadap penurunan biaya produksi dan konsumsi energi, hingga mendukung industri batik menjadi lebih berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan,” tutur Agus.














