Kendati demikian, Menperin juga mengingatkan agar penerapan teknologi dan inovasi tetap dilakukan dengan berhati-hati dan bertanggung jawab, supaya nilai-nilai tradisional batik tetap terjaga sekaligus lebih ramah lingkungan.
Sebagai contoh, IKM Batik Butimo yang telah menghasilkan terobosan mesin CNC (Computer Numerical Control) Batik.
“Mesin ini tidak hanya dapat mempercepat produksi batik, tetapi juga mempertahankan kaidah proses produksi batik yang benar,” jelasnya.
Selain IKM Batik Butimo, Agus juga mengapresiasi Startup Runsystem yang telah menciptakan ERP (Enterprise Resource Planning) yang membantu manajemen rantai pasok IKM batik.
Dalam implementasinya, penerapan teknologi dan inovasi di kalangan IKM batik masih terhalang oleh sejumlah tantangan, seperti terbatasnya akses teknologi dan rendahnya kesadaran untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
“Oleh karena itulah, Kemenperin bersama YBI mengangkat inovasi dan teknologi sebagai tema dalam perayaan Hari Batik Nasional 2025. Ini wujud komitmen kami untuk mendorong transformasi Industri Batik yang lestari secara budaya, ramah lingkungan, sekaligus berdaya saing global,” ujar Agus.
Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Pratama menyampaikan, perubahan zaman yang begitu cepat menuntut pelaku industri untuk terus beradaptasi, termasuk di sektor batik.














