Laba usaha Perseroan juga meroket 1.187,34% dari sebelumnya hanya sebesar Rp19,56 miliar pada kuartal I 2024, menjadi Rp251,9 miliar pada periode 2025. Kombinasi efisiensi biaya produksi dan peningkatan volume penjualan menyebabkan laba tahun berjalan Perseroan melambung tajam 1.473,69% menjadi Rp193,13 miliar pada kuartal I 2025 dibandingkan periode sama sebelumnya sebesar Rp12,27 miliar.
“Kami cukup puas atas pencapaian kinerja operasional dan keuangan Perseroan di Kuartal pertama tahun 2025, mengingat kondisi makro geopolitik yang kurang kondusif yang juga mempengaruhi kondisi perekonomian domestik secara keseluruhan,” ungkapnya.
Dari sisi Neraca, jelas Ruddy, Perseroan mencatatkan total aset per Maret 2025 sebesar Rp1,26 triliun atau tumbuh sekitar 20,77% dibandingkan Rp1,05 triliun per Desember 2024. Di sisi lain, total ekuitas Perseroan mengalami peningkatan dari Rp878,18 miliar menjadi Rp1,07 triliun per Maret 2025. Hal ini disebabkan oleh peningkatan saldo laba tahun berjalan Perseroan yang sangat signifikan.
Pada tahun 2025, harga nikel diperkirakan masih bergerak fluktuatif imbas dari perang dagang antara AS-China yang masih membayangi stimulus ekonomi global ditambah dengan adanya kelebihan pasokan yang dapat menambah tekanan pada harga nikel.














