NII tersebut antara lain berasal dari pendapatan bunga dari kredit, penempatan aset likuid, dan pendapatan bunga bersih Grup OTO.
Selain itu, pertumbuhan pendapatan juga dikontribusikan oleh pendapatan fee dari Grup OTO.
Dari sisi intermediasi, kredit retail tumbuh 31 persen yoy berkat kontribusi dari Joint Finance (282 persen yoy), Jenius (di luar Digital Micro, 22 persen yoy), dan Mikro (29 persen yoy).
Kredit korporasi dan komersial lebih rendah sebesar 2 persen yoy dengan adanya dinamika suku bunga, fluktuasi nilai tukar, dan persaingan pasar yang ketat yang memengaruhi keputusan bisnis korporasi secara umum.
Di sisi lain, kredit usaha kecil dan menengah (UKM) mencatatkan pertumbuhan 2 persen.
Secara total penyaluran kredit SMBC Indonesia meningkat 1 persen yoy menjadi Rp188,1 triliun. Lebih lanjut, total aset SMBC Indonesia tumbuh tipis mencapai Rp240,1 triliun.
Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) lebih rendah sebesar 2 persen yoy menjadi Rp117,4 triliun.
Meski begitu perseroan tetap mempertahankan performa DPK di segmen retail dengan mencatat pertumbuhan sebesar 14 persen yoy menjadi Rp59,2 triliun, dibandingkan Rp51,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun deposito berjangka tumbuh 6 persen yoy menjadi Rp75,4 triliun, sehingga berdampak ke rasio dana murah atau current account saving account (CASA) yang lebih rendah menjadi sebesar 36 persen.














