Untuk menghadapi tantangan tersebut, papar Anton, bank digital perlu menerapkan strategi inovatif, seperti menghadirkan produk pinjaman berbasis teknologi yang mempermudah akses kredit serta menawarkan deposito fleksibel yang lebih sesuai dengan kebutuhan nasabah. Di sisi lain, kebijakan penurunan suku bunga BI menjadi 5,75% dapat menjadi peluang bagi bank digital untuk meningkatkan permintaan kredit dan perlahan memulihkan daya beli masyarakat.
Selain itu, lanjutnya, perang bunga di antara bank digital juga menjadi tantangan berat bagi industri perbankan digital tahun ini. Perlu ketahui, persaingan suku bunga simpanan yang kompetitif menjadi tantangan bagi bank digital di 2025. Suku bunga tinggi memang efektif dalam menarik nasabah, tetapi tanpa strategi berkelanjutan, hal ini dapat membebani struktur keuangan bank. Oleh sebab itu, bank digital perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik, mengkombinasikan suku bunga menarik dengan inovasi produk dan layanan bernilai tambah.
Diversifikasi produk menjadi strategi utama untuk mempertahankan daya saing tanpa menimbulkan risiko likuiditas jangka panjang. Dengan pendekatan yang terintegrasi, bank digital dapat memanfaatkan suku bunga kompetitif sebagai daya tarik, sekaligus menjaga stabilitas keuangan dan profitabilitas di tengah persaingan industri yang semakin dinamis.













