Adapun posisi Uang Kuasi tercatat sebesar Rp3.425,6 triliun, atau tumbuh 12,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Agustus 2015 (12,7% yoy). Melambatnya pertumbuhan Uang Kuasi terutama dalam bentuk simpanan berjangka (rupiah dan valas) dan giro valas sektor swasta, sementara tabungan (rupiah dan valas) tumbuh meningkat.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, penghimpunan simpanan masyarakat di bank (DPK)3 juga mengalami perlambatan pada September 2015. Posisi simpanan masyarakat di bank (DPK) tercatat sebesar Rp4.322,2 triliun, atau tumbuh 11,5% (yoy) melambat dibandingkan dengan Agustus 2015 (12,6% yoy).
Hal ini sejalan dengan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan M2 yang melambat dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan tagihan kepada sektor lainnya,” jelasnya di Jakarta, Rabu (4/11).
Meskipun demikian, pertumbuhan kredit4 secara keseluruhan tercatat sedikit meningkat (10,9% yoy) dibandingkan bulan sebelumnya (10,8% yoy). Peningkatan pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit kepada BUMN bukan lembaga keuangan, sementara kredit kepada sektor swasta tumbuh melambat (11,7% yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya (11,8% yoy).
Peningkatan pertumbuhan kredit tersebut terutama dalam bentuk kredit produktif, yaitu kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI). KMK tercatat sebesar Rp1.893,9 triliun, tumbuh 10,3% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan Agustus 2015. Peningkatan KMK terutama terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan & perikanan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) yang masing-masing tumbuh dari 13,2% (yoy) dan 10,1% (yoy) pada Agustus 2015 menjadi 15,6% (yoy) dan 11,2% (yoy) pada September 2015.













