Kontras dengan pos pendapatan operasi lainnya sebesar Rp85,21 miliar.
Alhasil, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk longsor 58% menjadi Rp719,72 miliar per kuartal III/2024 dari Rp1,72 triliun per kuartal III/2023.
Menurut analisis pasar, SIG juga mengalami Penurunan Penjualan yang Signifikan pada tahun 2024 jika dibandingkan tahun 2023.
Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya permintaan di sektor konstruksi, yang dipicu oleh stagnasi pertumbuhan ekonomi nasional dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Banyak proyek konstruksi besar yang terpaksa ditunda, menyebabkan dampak langsung pada konsumsi semen.
Sektor industri semen di Indonesia juga dihadapkan pada sorotan yang semakin tajam terkait isu lingkungan.
Permasalahan selama ini terkait emisi karbon dan dampak pertambangan bahan baku semen mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat.
Uchok Mantan Koordinator Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) itu pun menegaskan Kementerian BUMN sebagai pemilik saham terbesar di SIG Semen harus mengevaluasi para direksi dan komisarisnya.
“Pemerintah sebagai pemegang saham di SIG harus evaluasi para komisaris dan direksi lantaran terjadi penurunan pendapatan, dan laba,” ujarnya.














