Dia pun mengusulkan jika direksi lambat dalam melakukan tata kelola perusahaan seyogyanya di copot, karena pembangunan yang sudah berjalan tidak bisa tertunda.
“Bila perlu para komisaris dan direkturnya dicopot saja karena tidak bisa berbisnis semen karena dinilai lamban dalam beradaptasi dengan banyak proyek yang ditunda,” tegas dia.
Kebangkitan Pesaing Baru
Di tengah penurunan kinerja Semen Indonesia, sejumlah pesaing lokal dan internasional mulai merambah pasar semen Indonesia dengan strategi agresif.
Perusahaan-perusahaan baru yang menawarkan produk dengan harga lebih kompetitif dan teknologi ramah lingkungan mulai menarik perhatian konsumen.
Hal ini semakin membuat Semen Indonesia tertekan untuk berinovasi, namun tampaknya langkah yang diambil masih belum cukup untuk memulihkan pangsa pasar yang hilang.
Seiring dengan penurunan pendapatan, harga saham Semen Indonesia juga mengalami penurunan yang cukup dramatis.
Saham SIG anjlok sebesar 12,5% ytd saat ini harga saham SMGR menyentuh Rp 2.870,-.
Investor mulai khawatir dengan utang perusahaan yang terus membengkak, sementara laporan keuangan menunjukkan adanya potensi untuk gagal bayar jika tren penurunan ini berlanjut.
Meskipun manajemen perusahaan berusaha meyakinkan pemegang saham akan adanya perbaikan di masa depan, banyak pihak meragukan kemampuan Semen Indonesia untuk segera bangkit dari krisis ini.














