Lalu diikuti oleh lumut mosse dan lichen (22,54 persen) dan tanaman hias jenis lainnya (50,53 persen).
Selama periode Januari-September 2021, lanjut Rini, Jepang tercatat sebagai negara tujuan ekspor utama tanaman hias asal Indonesia, dengan pangsa sebesar 32,23 persen dan diikuti Singapura (15,55 persen), Amerika Serikat (13,12 persen), Belanda (13,03 persen) dan China (5,60 persen).
Sementara itu, peningkatan nilai ekspor tanaman hias pada periode Januari-September 2021 dicatatkan oleh Jepang sebesar 31,72 persen (y-o-y) menjadi USD3,47 juta yang didorong oleh ekspor produk lumut mosse-lichen.
“Tanaman ini diketahui memiliki kandungan nutrisi yang dapat mengobati bronkitis, asma, jantung, lambung, antivirus, antioksidan hingga anti-kanker. Industri farmasi di Jepang yang memanfaatkan nutrisi dalam tumbuhan tersebut telah meningkatkan potensi ekspor bagi Indonesia,” papar Rini.
Selanjutnya, pertumbuhan nilai ekspor tersebut juga diikuti oleh Singapura sebesar 97,37 persen (y-o-y) menjadi USD1,67 juta yang didorong oleh ekspor produk tanaman cangkok dan bunga potong.
Peningkatan ini dikarenakan adanya permintaan masyarakat untuk karangan bunga dalam berbagai upacara perayaan dan tujuan dekoratif lainnya.














