Selain aspek likuiditas, faktor yang juga dicermati oleh pelaku pasar adalah adanya perbaikan kualitas aset yang diharapkan mendorong kinerja BBNI di tahun 2024.
“Metrik kualitas aset mengalami kenaikan yang signifikan, dengan turunnya NPL 70bp YoY menjadi 2,1%, LAR turun 310bp YoY menjadi 12,9%, dan CoC turun 50bp YoY menjadi 1,4% pada FY23, sejalan dengan panduan BBNI,” tulis Handy Noverdianus dan tim analis CGS CIMB Sekuritas dalam laporan risetnya.
Sebagai informasi, rasio NPL BNI di akhir Desember 2023 mencapai 2,1%, membaik dibandingkan akhir tahun sebelumnya yang mencapai 2,8%.
Rasio kredit macet juga terus membaik secara kuartalan.
Pada kuartal III-2023, rasio NPL BNI mencapai 2,3%.
Tidak hanya rasio NPL yang membaik, rasio kredit berisiko atau dikenal dengan Loan at Risk (LaR) bank dengan logo 46 tersebut juga menunjukkan perbaikan secara konsisten.
LaR BBNI per akhir Desember 2023 mencapai 12,9%, turun dari 16% di 2022.
Perbaikan kualitas aset BNI tersebut membuat beban cost of credit BNI turun dari 1,9% di akhir Desember 2022 menjadi 1,4% akhir tahun lalu.
Tahun ini, manajemen BBNI menargetkan cost of credit BBNI dapat di bawah 1,4% dan akan berada di level 1% dalam jangka panjang.
Upaya bank BUMN tersebut untuk terus meningkatkan kualitas aset juga turut diapresiasi oleh pelaku pasar.
Menurut Erni Marsella Siahaan, CFA analis Ciptadana Sekuritas, target BNI untuk mencapai rasio LaR 10% di 2024 dan mencapai single digit di 2025 sejalan dengan target bank untuk mencapai cost of credit di bawah 1% untuk jangka panjang.
“Kami telah merevisi estimasi laba kami untuk 2024/25F sebesar 3%, terutama karena asumsi CoC yang sedikit lebih baik,” tulis Erni dalam laporan risetnya.











