Fiskal pemerintah Jepang juga cukup kuat. Meskipun utang pemerintah Jepang besar, tetapi rasio beban bunga utang terhadap penerimaan pajak pada 2018 hanya 10,95 persen.
Jauh lebih rendah dari Indonesia. Meskipun stok utang pemerintah Jepang tinggi, tetapi ketahanan utang luar negerinya sangat kuat, jauh lebih baik dari utang pemerintah Indonesia.
Rasio beban bunga terhadap penerimaan pajak Indonesia meruapakan yang tertinggi di ASEAN-7. Rasio beban bunga Thailand bahkan hanya 5,15 persen.
Untuk Turki dan Argentina, rasio beban pajak terhadap penerimaan pajak juga cukup rendah, masing-masing 6,88 persen dan 11,81 persen pada 2017 dan 9,05 persen dan 16,48 persen pada 2018.
Tetapi, kedua negara tersebut mengalami krisis valuta pada 2018. Argentina bahkan harus minta bantuan IMF. Karena utang luar negeri kedua negara ini cukup tinggi sehingga tidak dapat menahan gejolak (shock) ekonomi dan keuangan secara tiba-tiba.
KESIMPULAN
Risiko eksternal (External Sustainability) dan risiko fiskal (Fiscal Sustainability) Indonesia sangat tinggi untuk memicu krisis valuta dan krisis fiskal.
Karena Indonesia terjebak dalam penumpukan utang (Skema Ponzi).
Pertama, pemerintah tidak bisa mengurangi utang luar negeri karena neraca transaksi berjalan mengalami defisit dengan jumlah cukup besar.















