Angka tersebut menjadikan ASEAN sebagai ekonomi terbesar kelima di dunia.
Beriringan dengan itu, ekonomi digital ASEAN juga berkembang pesat.
Transaksi pembayaran digital meningkat sebesar 19 persen, sementara perdagangan elektronik lintas batas tumbuh sebesar 35 persen.
“Pertumbuhan yang luar biasa tersebut didorong oleh preferensi konsumen terhadap platform digital, kebijakan yang mendukung, dan inovasi pembayaran. Namun, tantangan tetap ada, termasuk kesenjangan infrastruktur dan keterampilan, keragaman regulasi, serta perlindungan data,” tutur Wamendag Roro.
Sebagai contoh nyata, Wamendag Roro mengangkat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia sebagai kisah sukses.
“Indonesia telah muncul sebagai pemimpin dalam pengembangan infrastruktur pembayaran digital melalui QRIS yang namanya terinspirasi dari Keris, senjata tradisional dari Jawa. Sejak diluncurkan pada 2019, QRIS mencatat pertumbuhan luar biasa. Saat ini, QRIS telah menjadi preferensi cara bayar tersendiri,” jelas Wamendag Roro.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan transaksi meningkat dari 124 juta transaksi senilai Rp8,2 triliun pada 2020 menjadi 2,2 miliar transaksi senilai Rp242 triliun pada 2024.
Hanya pada kuartal pertama 2025 saja, QRIS mencatat 2,6 miliar transaksi senilai Rp262,1 triliun.













