Demikin juga dengan pemain Persepam Madura Utama lainnya Faris Aditama juga dilanggar secara keras oleh penjaga gawang PSBK Blitar sampai ditandu keluar lapangan. Tapi Suyanto tidak mengganjari pelakunya dengan kartu merah dan hukuman tendangan penalti. “Malah PSBK Blitar diberi tendangan gawang. Ini sangat aneh,” tuturnya. 
Selain itu, Suyanto juga tidak memberi kartu kuning kedua kepada pemain PSBK Blitar bernomor punggung 8, Eka Hera, yang melakukan pelanggaran berat terhadap pemain Persepam Madura Utama. Suyanto justru memberi kartu kuning kepada pemain bernomor punggung 19 yang tidak melakukan kesalahan apa pun pada laga itu.
Keputusan paling fatal yang dilakukan Suyanto adalah ketika pemain PSBK Blitar memukulnya sampai ia harus berlari keluar lapangan. Bukanya memberi kartu merah kepada pelaku, ia justru masuk lagi ke lapangan dan melanjutkan pertandingan tanpa sanksi apa pun kepada pemain yang melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya. “Selain itu, tambahan waktu dari waktu normal yang diberikan wasit tidak seperti pada umumnya, meski ini menjadi kewenangan wasit yakni mencapai 6 menit. Namun, tambahan waktu 6 menit terkesan masih kurang oleh wasit sebab baru menit ke 7,5, ia meniup peluit panjang dan menghentikan pertandingan setelah tim PSBK Blitar mencetak gol balasan pada menit ke-90+7,5,” ujarnya.














