Zulfan menegaskan, masyarakat yang bergantung pada media sosial kemudian mengenal kelompok-kelompok radikal dan ekstrim, maka bisa saja pendiriannya menjadi bersikap ekstrim pula.
“Nah ini yang bahaya juga ketika orang hanya bergantung kepada media sosial untuk memahami suatu persoalan-persoalan penting dan prinsip seperti ideologi ataupun filsafat misalnya, tetapi dia tidak mendalami atau tidak menguasai maka dia lebih mudah terpengaruh,” tandasnya.
Stafsus Menteri Kominfo menyontohkan kelompok ISIS di Eropa yang menyerap anak-anak muda melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan berbagai platform digital lainnya.
“Mereka diajak, dijanjikan macam-macam sama seperti di Indonesia yang seperti kita tahu, ketika mereka pulang mereka cerita bahwa mereka dijanjikan bahwa di sana nanti akan mendapatkan kenikmatan, kemudahan, segala macam, janji-janji indah. Nah kemudian begitu sampai di sana, sampai di Syria, sampai ke Irak misalnya, mereka diajarkan latihan militer, setelah latihan militer mereka disuruh perang bunuh orang dan segala macam tanpa ada dasar sama sekali,” ujarnya.
Zulfan menilai cara-cara seperti itulah yang terbangun sebagai bentuk indoktrinasi permusuhan, dan bagi orang yang ada di luar kelompok mereka adalah musuh dan harus dibunuh.













