Menurutnya, dalam Telegram para pelaku teror menyebar daftar nama pejabat negara yang dijadikan target penyerangan.
“Bagi pelaku lone wolf, di sana ada daftar nama pegawai lengkap siapa yang jadi targetnya, foto-fotonya,” ujarnya.
Teguh sendiri mengaku sempat menerima ancaman dari akun tidak dikenal usai resmi memblokir Telegram pada Jumat (14/7/2017) lalu. “Dua hari setelah itu, mereka (teroris) marah, Kominfo disebut ikut bagian dari thogut, halal darahnya ditumpahkan. Ini ancaman,” ujarnya.













