Menurut Hadjar, WSKT memanfaatkan pendanaan dari perbankan, pasar modal hingga skema pendanaan kreatif untuk mendukung penyelesaian proyek, seperti Pendanaan Infrastruktur Non-Anggaran (PINA), sekuritisasi aset dan bahkan divestasi ruas tol.
Hadjar mengeluhkan, sejauh ini tantangan terbesar WSKT dalam pembangunan proyek infrastruktur adalah masalah pendanaan.
“Potensi yang ada masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, namun pengembang infrastruktur seperti Waskita akan membutuhkan dukungan pendanaan dengan biaya yang kompetitif,” papar Hadjar.
Hadjar meminta agar pemerintah bisa memaksimalkan peran Indonesia Investment Authority (INA) dalam pendanaan proyek, baik dalam bentuk ekuitas maupun pinjaman.
“INA yang mempunyai kapasitas pendanaan besar, memiliki potensi untuk mendanai proyek brownfield maupun greenfield,” ucapnya.
Dalam siaran persnya, WSKT mengaku bahwa saat ini perseroan sedang melakukan diskusi dengan INA dalam rangka program divestasi ruas tol yang merupakan investasi milik Waskita Karya.












