Praktek lisensi oleh perusahaan farmasi ini telah membatasi kapasitas produksi manufaktur dengan hanya memilih secara eksklusif produsen mana saja dan dinegara mana saja yang bisa memproduksi vaksin.
Bahkan dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Dokter Lintas Batas disebutkan praktek eksklusif itu seperti yang dilakukan oleh AstraZenneca yang membatasi pemberian lisensinya hanya pada Serum Institute of India (SII).
Lebih lanjut, SII dilarang memasok negara-negara berpenghasilan menengah ke atas dan negara berpenghasilan tinggi, pasar yang paling menguntungkan bagi AstraZeneca.
Bahkan, meskipun telah menerima setidaknya US $ 70,5 juta dana publik untuk mengembangkan Remdesivir (salah satu kandidat obat untuk pengobatan COVID-19), perusahaan farmasi Gilead telah menandatangani kesepakatan bilateral rahasia dengan beberapa perusahaan generik pilihannya yang mengecualikan hampir setengah dari populasi dunia dari wilayah lisensinya.
“Tentu, hal ini akan kembali menghambat produksi vaksin dengan skala besar dalam rangka memenuhi pasokan vaksin diseluruh dunia. Oleh karena itu, dalam pertemuan TRIPS Council Meeting pada 11 Maret 2021 besok, Proposal TRIPS Waiver harus tetap menjadi opsi tunggal yang tidak bisa digantikan dengan proposal yang sangat kompromis dengan kepentingan bisnis”, tutup Rachmi.














