Osmanpun gembira. Prof Osman adalah tokoh Masyumi yang pernah berguru dengan Goebbels ketika dia kuliah di Berlin menjelang Perang Dunia II.
Karena itu Yusril tertawa saja ketika Benny Harman menyebut dia gunakan cara berpikir totaliter dalam menguji AD Partai Demokrat.
“Seingat saya Benny Harman mengikuti kuliah saya Filsafat Hukum dan Teori Ilmu Hukum ketika dia mahasiswa Pascasarjana UI,” jelasnya.
Peserta pascasarjana tegasnya tidak mengesabkan dirinya penganut faham totaliter Nationale Sosialismus atau Nazi.
Malahan di kampus pemikiran hukum filsafat hukumnya malah dianggap terlalu Islam.
“Di zaman Orba, Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo menyebut saya ekstrim kanan” kenang Yusril.
Pemerintah Amerika Serikat sampai sekarang nampaknya menganggapnya Islam radikal.
“Makanya saya tidak pernah dikasi visa untuk masuk ke AS”jelas Yusril.
Karena itu dia menganggap sebuah kejutan, gegara membela 4 kader Demokrat yang dipecat, lalu dapat julukan baru sebagai pengikut Hitler.
“Dua minggu lalu saya dijuluki Pengacara Rp 100 miliar. Sekarang saya dijuluki lagi sebagai Nazi pengikut Hitler. Masih untung saya gak dijuluki PKI,” kata Yusril tertawa.
Benny Harman menuduh Yusril menempatkan negara di atas segalanya atau “uber alles” dalam istilah Hitler.













