|Saturday, November 1, 2014
Anda disini: Home » Profile » Said Abdullah: Sosok Sosialis yang Humanis
  • Follow Us!

Said Abdullah: Sosok Sosialis yang Humanis 

Nama MH Said Abdullah sudah tak asing lagi dalam dunia perpolitikan tanah air. Pria Madura yang nasionalis dan pengagum Bung Karno ini adalah wakil rakyat dari daerah pemilihan XI Madura, Jawa Timur.  Kini Said tercatat sebagai salah seorang anggota Komisi VIII DPR RI. Pria kelahiran Sumenep, Madura 22 Oktober 1962 buah hati pasangan Abdullah Syekhan Baqraf dan Ibu (Alm) Fatimah Gauzan punya cerita panjang dalam hidupnya.

Said menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Sumenep. Pendidikan tingkat dasar diselesaikan di Sumenep. Kemudian dia melanjutkan SMP juga di Sumenep. Sekolah lanjutan atas pun diselesaikan di kota paling Barat pulau Madura ini.

Minat Said dalam dunia politik terlihat sejak remaja. Dia aktif berorganisasi sejak SMA. Dia pernah menjadi Sekretaris OSIS SMA (1981). Berkat ketekunan dan kegigihannya, dia pernah menjadi ketua DPC Banteng Muda Indonesia , Kabupaten Sumenep (1982-1985).

Minat Said berorganisasi terbawa terus hingga tamat SMA. Pada tahun 1984, Said terpilih menjadi Ketua DPC Majelis Muslimin Indonesia Kabupaten Sumenep. Sejak itu, karir politiknya terus melejit. Sebagai politisi yang nasionalis, ia memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Said terpilih menjadi juru kampanye nasional PDI pada 1987. Tanpa pernah lelah ia mengarungi lautan perpolitikan yang penuh tantangan. Karir politiknya dari waktu ke waktu semakin bersinar. Pada tahun 2004, Said terpilih sebagai anggota DPR RI. Kala itu, ia dianggap oleh pengurus DPP PDI P punya prestasi gemilang, karena berhasil merebut kursi di Sumenep.

Di kalangan teman-temannya, politisi Madura ini dikenal pandai bergaul. Pergaulannya lintas batas karena dia berteman dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan etnis, kultur, agama dan aliran politik. Dia seorang sosok pendobrak (prime mover) yang bisa menerobos tembok-tembok primordial. Itulah sebabnya dia dijuluki sosok lintas batas oleh wartawan, dan Sekjen PDIP menyebutnya mutiara dari Timur.

Said mengaku sangat mengagumi Soekarno. Bahkan, ia memiliki foto khusus mantan Presiden Republik Indonesia ini dalam ukuran besar. Tidak hanya itu, Said memiliki koleksi buku-buku Bung Karno. Selain mengoleksi, dia juga rajin membolak-balik halaman demi halaman dari koleksinya itu.  “Saya melihat Soekarno itu punya ajaran spesifik dan hebat, yaitu nasionalis yang relegius,” pujinya. Tidak heran dia menyebut dirinya sebagai “anak ideologis” Bapak Proklamator itu. Bahkan saking kagumnya pada Bung Karno, tanda tangan politisi asal Madura ini bertuliskan “Soekarno”.

 

 

Humanis

Said adalah sosok sosialis yang humanis. Dalam artian bahwa dia selalu mengutamakan keadilan, persamaan, demokrasi, dan multikulturalisme. Karenanya dia selalu memperhatikan dan mencurahkan segala pengabdiannya sebagai politisi dan tokoh sosialis kepada orang kecil, orang miskin, orang yang berada di pinggirin, dan orang-orang yang tersisihkan. Bahkan untuk merasakan nasib mereka, MH. Said Abdullah bisa menyesuaikan gaya hidupnya. Dia bisa tidur di hotel berbintang, namun dia juga bisa tidur dengan sangat nyenyaknya kalau harus tidur di gubuk masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi. Perilaku sosialis humanisnya dimulai sejak kecil. Di mana sejak kecil dia sudah punya cita-cita dan keinginan untuk berperilaku yang sama dengan tokoh panutannya yakni Ir. Soekarno. Dia tinggal di daerah yang sangat heterogen, dengan ragam sosial, kultural, ekonomi, dan keagamaan yang beragam. Dia berinteraksi dengan semuanya. Hal inilah yang menjadikan dasar berpolitiknya yakni toleransi teradap keragaman kultural, dan bahkan memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Dia berasal dari keluarga yang sederhana secara ekonomi, di mana bapaknya bekerja sebagai pegawai PN Garam, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga, yang memiliki etos kerja yang luar biasa untuk menambah penghasilan ekonomi keluarganya. Bahkan MH. Said Abdullah sejak sekolah SMA harus melakoni berbagai aktivitas profesi untuk menambal kebutuhan ekonomi keluarga orang tuanya, dia pernah menjadi tukang las, mengecat ranjang besi, ranjang ukir, dan tukang amplas. Dia juga ahli dalam keterampilan menjahit, dia menjahit sendiri celana seragamnya. Di mana pada saat usia SMA anak seusia dia banyak menghabiskan waktunya untuk mengekspresikan diri dengan keegoisannya, dalam artian menghambur-hamburkan uang orang tuanya, seperti jalan-jalan, balapan liar, dan lain sebagainya. Namun, dia harus bekerja banting tulang untuk membantu eksistensi ekonomi keluarganya. Hal inilah yang menjadikan fondasi dirinya dalam berpolitik, yakni sosok yang menghargai perbedaan dan memperjuangkan hak-hak minoritas. Dia sangat menentang berbagai kebijakan-kebijakan yang berbau diskriminatif atau mengandung subordinasi terhadap kelompok lain. Dia tidak menyetujui SKB dua menteri, dia membela penganut Ahmadiyah, bukan pada keyakinannya namun pada kebebasan mereka dalam menjalankan ibadah keagamaannya dan kepercayaannya. Dia juga membela Konghucu. Memperjuangkan nasib pendidikan pesantren, madrasah diniyah, dan lain-lain. Selain itu, sebagai anggota DPR dia juga memperjuangkan reformasi penyelenggaraan haji yang selama ini cenderung membebani jemaah dengan biaya yang sangat mahal tapi tidak dengan pelayanan yang prima. Dia juga menentang PP No. 48/2005 tentang pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS, dikarenakan mendiskriminasikan guru-guru dari sekolah-sekolah swasta sekalipun sudah mengabdi puluhan tahun. Bukan hanya dalam lingkup nasional, di daerah dia selalu menjaga kedekatan dengan masyakarakat pada umumnya. Oleh karenanya dia mendirikan Said Abdullah Institute sebuah lembaga sosial yang mengajak semua masyarakat untuk menjadikan diri mereka sebagai masyarakat sipil, masyarakat madani, masyarakat yang memiliki kemandirian secara sosial, ekonomi, hukum, agama, budaya, dan politik. Di mana lembaga sosial tersebut didirikan sebagai upaya proses pemberdayaan bagi masyarakat yang belum memiliki kemandirian tersebut. Berbagai kegiatan sosial yang menghilangkan unsur ’politisasi’ dalam bantuan tersebut, telah banyak dilakukan sejak awal bahkan sebelum dia menjadi wakil rakyat. Proses kemandirian yang dia usung untuk menciptakan civil society di masyarakat tidak hanya diusung lewat lembaga sosial Said Abdullah Institutenya namun dia juga mendirikan berbagai media informasi untuk mencerdaskan masyarakat dan upaya mempermudah masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan baik. Seperti Madura Channel (TV), Madura FM (Radio), dan Suluh MHSA (Majalah). D. Penutup MH. Said Abdullah adalah sosok yang telah melibatkan dirinya untuk penguatan masyarakat supaya memiliki kemandirian. Baik melalui lembaga organisasi yang dia buat untuk melakukan proses pemberdayaan maupun melalui berbagai media yang dia dirikan sebagai upaya pencerdasan masyarakat. Proses kemandirian yang dia impikan bagi masyarakat telah menciptakan sebuah proses kelahiran demokratisasi sebagaimana cita-cita negara Indonesia, yakni memakmurkan bangsa, dan menciptakan masyarakat yang adil. Sebuah cita-cita dari para founding father negara Indonesia yang masih jauh dari harapan. Namun kini kita bisa berharap dengan adanya sosok MH. Said Abdullah kita bisa mendapatkan keadilan dan kemakmuran dari negara tercinta ini. Sebuah sosok yang mengupayakan lahirnya civil society di masyarakat, dengan melawan, memberontak, dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan yang telah ditelorkan oleh negara, dikarenakan kebijakan-kebijakan tersebut ternyata sebuah upaya untuk melanggengkan hegemoni negara terhadap kaum marginal. Sehingga tidak salah ketika sosok Puan Maharani mengatakan beruntung Madura memiliki MH. Said Abdullah putra daerah yang memiliki kepedulian serta menawarkan berbagai cara untuk membangun Madura pasca realisasi Jembatan Suramadu yang berpola modern tanpa harus menghilangkan identitas –local wisdom-keMaduraannya. Serta memberikan masyarakat Madura kemandirian dalam proses pembangunan industrialisasi di Madura, dalam artian masyarakat Madura bisa menikmati hasil industrialisasi di Madura bukan hanya menjadi penonton.