JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (3/6) diperkirakan bergerak stagnan, dengan kecenderungan melemah karena pelaku pasar mencemaskan arus capital outflow dari bursa saham Indonesia. “Rupiah diperdagangkan dikisaran 9.810 -.9.830 per dollar Amerika Serikat (AS),” analis valas PT Harvest International Futures, Tonny Mariano di Jakarta, Minggu (2/6).
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih belum berhenti. Pemicunya kata dia, masih tingginya permintaan dollar AS di pasar domestik. Apalagi, banyak perusahaan yang membagi deviden dalam bentuk dollar AS. Namun sayangnya, meningkatnya kebutuhan dollar AS korporat ini tidak diantisipasi dengan ketersediaan likuiditas dollar AS di pasar sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Dia menambahkan, pelemahan rupiah juga dipicu oleh sentimen negative terhadap kinerja neraca pembayaran yang mencatat defisit sebesar 6,6 miliar dollar AS akibat penempatan valuta asing ke luar negeri oleh pihak swasta sebesar 6,7 miliar dollar AS. Defisit neraca pembayaran ini membuat posisi cadangan devisa Indonesia turun sebesar 8 miliar dollar AS selama triwulan I-2013,” tutur dia.
Dari eksternal kata dia, sentimen regional kurang baik menyusul spekulasi bank sentral Amerika yang dispekulasikan akan menghentikan stimulusnya. Hal ini mendorong aksi jual aset-aset berisiko sehingga investor mencari aset yang paling aman yaitu dollar AS.















