Menurut Frans, seiring dengan transformasi dan pertumbuhan industri pariwisata Indonesia saat ini, pemerintah harus terus mendorong pengembangan destinasi unggulan melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Salah satu fokus utama dalam transformasi ini adalah pengembangan wisata minat khusus, termasuk wisata religi, yang memiliki potensi besar untuk menghadirkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Flores, NTT dengan kekayaan warisan budaya, spiritualitas Katolik yang kuat, serta bentang alam yang menakjubkan, menjadi wilayah yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi unggulan,” tuturnya.
“Labuan Bajo sebagai gerbang utama pariwisata di Nusa Tenggara Timur memiliki peran penting dalam membuka akses dan memperkenalkan kekayaan spiritual Flores kepada dunia. Sejarah panjang Gereja Katolik di Flores, kehadiran ribuan gereja, situs ziarah, dan tradisi inkulturasi yang khas, menjadi fondasi kuat dalam membangun narasi wisata ziarah yang otentik, berkarakter, dan menyentuh spiritualitas pengunjung,” lanjut Frans.
Melalui pertemuan bisnis virtual ini, BPOLBF berharap dapat mengoptimalisasi potensi wisata religi di Flores secara konkret: mulai dari penciptaan paket wisata ziarah yang terkurasi, pemetaan pola perjalanan (travel pattern) yang berkelanjutan, hingga terwujudnya transaksi bisnis antara pelaku industri pariwisata.












