Selain masalah pembayaran, Adisatrya juga menekankan pentingnya efisiensi dan optimalisasi yang berkelanjutan dalam kinerja BUMN Karya.
Ia mengungkapkan bahwa setiap tahun, perusahaan-perusahaan ini perlu terus berupaya melakukan efisiensi, tidak hanya di masa-masa sulit, tetapi juga ketika kondisi finansial lebih stabil.
“Setiap tahun harus ada perbaikan dari segi efisiensi dan optimalisasi,” lanjutnya.
Terkait dengan model bisnis yang dijalankan oleh perusahaan BUMN Karya, Adisatria mengingatkan bahwa sektor ini bersifat kompetitif dengan margin keuntungan yang tipis.
“Bisnis ini bukan high-margin business, ini small-margin business. Oleh karena itu, mitigasi dan analisa risiko sebelum mengambil proyek, terutama yang besar, sangat penting. Jika ada salah hitung sedikit saja, biaya proyek bisa melebihi margin yang ada,” ungkapnya.
Sebagai langkah lanjutan, Komisi VI DPR RI dalam salah satu poin kesimpulan rapat meminta agar BUMN Karya melaporkan hasil efisiensi, evaluasi proyek, dan pembayaran kewajiban keuangan mereka per triwulan.
“Ini penting agar kami bisa memantau perkembangan dan memastikan bahwa perusahaan-perusahaan ini berjalan dengan transparan dan akuntabel,” tandas Adisatrya.















