“Pemimpin nasional itu dituntut memikirkan era sebelum dan sesudah reformasi, dan punya visi sosio nasionalis religius sebagai sebuah karakter dalam memimpin. Lalu, siapa? Bisa Anis Baswedan, Gita Wirjawan, Pramono Anung, Lukman Hakim Saifuddin dll,” ujarnya.
Fadli Zon mengakui pelambatan generasi itu akibat sistemnya salah dan demokrasi cenderung liberal, mahal, transaksional, dan kriminal.
“Harusnya demokrasi yang dibangun adalah demokrasi berdasarkan ekonomi, politik, dan sosial, sehingga akan dilakukan dengan gotong royong. Tapi, karena mahal, maka orang muda dan tak beruang tersingkir dalam pertarungan,” tambahnya.
Tragisnya lagi, pemimpin partai harus mencari uang sebagaimana halnya perusahaan, maka wajar kalau kemudian terjadi transaksional, money politics, korupsi di Banggar DPR, main proyek dengan kementerian, dan sebagainya. “Jadi, sudah tak menghiraukan lagi program dan kaderisasi partai,” imbuhnya.















