Menurut Jeirry, tema itu dipilih karena pihaknya melihat akhir-akhir ini sedang menghadapi ancaman perpecahan yang bisa menghancurkan kesatuan internal sebagai gereja dan kesatuan bangsa.
Untuk itu kata dia, dalam rangka mensosialisasikan pesan Natal bersama tersebut sekaligus untuk menyikapi dinamika sosial politik yang berkembang akhir tahun 2017 ini yang beragam sehingga menimbulkan kontroversi.
Baik internal maupun eksternal terhadap gagasan perayaan Natal di Monas, terhadap keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Juga Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 yang cenderung memanas, ancaman radikalisme, terorisme, dan lain-lain.
Karena itu PGI berharap agar umat kristiani tetap tenang, meresponnya secara matang dan rasional, serta mengedepankan sikap hidup damai dan memelihara persatuan baik diantara umat Kristen sendiri maupun dengan umat beragama lain.
Adanya potensi politisasi dan instrumentalisasi agama untuk kepentingan politik tertentu, yang dilakukan oleh warga gereja sendiri maupun oleh pihak-pihak lain, maka umat kristiani harus tetap hati-hati, berpikir cerdas dan rasional agar tidak terjebak dalam perdebatan dan kontroversi internal yang berpotensi memecah belah umat kristiani. “Perayaan Natal yang akan dilakukan itu harus lahir dari kejernihan dan ketulusan hati serta tetap mengutamakan prinsip dan nilai-nilai kristiani, yaitu kasih dan perdamaian,” ungkapnya.












