JAKARTA-Tingginya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai angka 6 persen dinilai semu karena tidak mampu mengatasi masalah kesejahteraan masyarakat.
Hal ini disebabkan, pertumbuhan ekonomi nasional lebih didorong oleh utang yang saat ini sudah mencapai 2.000 triliun rupiah.
“Pertumbuhan ekonomi kita memang salah satu tertinggi di dunia, tetapi tidak diikuti oleh strategi fiskal yang baik,” ujar anggota DPR Fary Djemi Francis di Jakarta, Kamis (23/5).
Menurut dia, kelompok yang mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi selama ini hanya segelintir orang.
Sementara rakyat kecil hampir tidak memperoleh benefit dari pertumbuhan tinggi ini.
“Yang tumbuh itu kan di sektor keuangan, sementara sektor rill kita tidak bergerak. Padahal, kalau sektor rill kita kuat maka, ekonomi kita semakin kuat dan tahan terhadap shock krisis global,” kata dia.
Guna dapat mengambil manfaat dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, Fary meminta agar pada APBN 2014 juga memasukan dua indikator keberhasilan, yakni indeks penyerapan tenaga kerja dan indeks kemiskinan.
“Setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen, maka harus mampu menyerap 600 ribu tenaga kerja dan menghapus jumlah orang miskin sebanyak 600 ribu jiwa,” terang dia.













