Bagi pastor Charles dengan situasi seperti sekarang ini tindakan yang dulu pernah disepakati para agamawan menyikapi situasi sosial politik yaitu melakukan tobat sosial tetap masih relevan dilaksanakan.
Dipertajam dengan panelis lain DR.Jhon Palinggi (Pengusaha dan Sekjen DPP BISMA/Badan Interaksi Sosial Masyarakat), menegaskan umat Kristiani harus berani juga bermain di dua kutub seperti di pressure grup (kelompok penekan) juga bisa di interest grup (kelompok yang punya kepentingan) .
Contoh yang sangat sederhana jika ada penutupan Gereja ataupun perusakan dan pembakaran yang harus dipertanyakan siapakah pengurus Gereja itu? Kok bisa terjadi seperti itu.
”Penutupan Gereja adalah indikasi tidak jalannya peran umat Kristen di tengah-tengah masyarakat yang majemuk,”tegas Jhon Palinggi.
Dalam konteks yang sama panelis Prof Dr. Marten Napang SH,MH,Msi mengatakan umat Kristiani harus bisa berperan untuk menonjolkan multicultural dalam bersosialisasi di tengah masyarakat.
“Jika kita menonjolkan monokultural maka yang terjadi adalah radikalisasi agama, korupsi dan menumpas yang minoritas,”tegas Prof Marten.
Sebelum Diskusi Panel dilaksanakan Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yang kini dipimpin Pdt. DR. Ferry Haurissa (ketua umum) dan Drs. Yosef Ariwibowo (Sekretaris Umum) pada Kamis, 18 Agustus 2016 juga dilakukan pelantikan pengurus baru periode baru 2016-2019. Sebelumnya Ketua FKKJ dipimpin oleh Theopilus Bella ( 2013-2016) .















