Hal ini karena India merupakan salah satu pasar produk VSF yang cukup menjanjikan, dan merupakan pasar impor terbesar ketujuh dunia pada 2020 dengan nilai impor sebesar US$86,27 juta (sekitar Rp1,2 triliun) atau 4,1 persen dari total perdagangan VSF dunia.
“Dari sisi negara tujuan ekspor Indonesia, India berada di posisi keempat dengan membukukan nilai ekspor sebesar US$25,35 juta (sekitar Rp364,1 miliar) atau 6,1 persen dari total ekspor VSF Indonesia ke seluruh dunia,” ujar Mendag.
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Plt Dirjen PLN Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana menambahkan dalam kurun waktu 11 bulan terakhir, Indonesia telah berhasil tiga kali berturut-turut terbebas dari pengenaan BMAD oleh DGTR India, yaitu untuk produk nonwoven fabric,viscose spun yarn (VSY), dan viscose staple fiber (VSF).
“Capaian untuk produk VSF kali ini menjadi catatan tersendiri. Hal ini mengingat VSF merupakan bahan baku dari VSY. Sehingga, eksportir Indonesia dapat secara simultan menggenjot ekspor untuk kedua jenis produk ini,” imbuh Wisnu.














