Defisit tersebut disebabkan oleh ketergantungan pada impor produk teknologi canggih (mesin industri, kendaraan, bahan presisi, dan peralatan medis).
“Untuk mengatasi hal tersebut, Indonesia menekankan minat pada manufaktur canggih yang meliputi kolaborasi dalam otomatisasi, mesin presisi tinggi, dan peralatan medis melalui produksi bersama, pelatihan teknis, serta fasilitas perakitan lokal di Indonesia,” tutup Wamendag Roro.














