“Jika ingin membangun pangan, energi, Indonesia harus urus sawitnya. Kita mesti paham, sawit merupakan mesin besar penambat CO2. Ini sudah ada risetnya. Sangat mungkin dilaksanakan perluasan sawit. Ini tidak ada hubungannya dengan deforestasi,” ujar Budi yang juga Kepala Pusat Studi Sawit IPB.
Alasan lainnya, ujar dia, masih banyak lahan marjinal yang tidak mendukung biodiversitas dan juga belum digarap dengan baik untuk memberikan nilai tambah ekonomi.
Saat ini luas areanya mencapai 31,8 juta hektar.
“Yang penting lagi bahwa Indonesia sangat mendukung perkembangan sawit karna Indonesia punya pengalaman budidaya selama 100 tahun. Perluasan sawit masih dimungkinkan karena banyak lahan marjinal yang belum digunakan maksimal. Lahan ini sangat potensial, sangat mungkin dari sisi strategis dan regulasi,” ujarnya.
Budi juga menyoroti juga area hutan Indonesia masih sangat luas dengan presentase 51,7 persen, namun lahan pertaniannya hanya 31 persen. Untuk pangan lebih kecil lagi yaitu hanya 0,088 persen.
Menurutnya hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang tergolong tinggi.
Sementara itu, Tauhid Ahmad menyebut bahwa sawit menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan komoditas yang memberikan efek rambatan yang paling tinggi dibanding komoditas lain.














