Dia merinci, dalam investasi sawit rata-rata surplus usahanya mencapai 66 persen baik di hulu maupun hilirnya.
“Sawit juga memiliki keterkaitan yang tinggi, termasuk industri turunannya seperti makanan, minuman. 1,7 ini sangat tepat karena memiliki multflyer tinggi. Secara umum kontribusi terhadap PDB 1,3 persen. Cukup tinggi,” ujarnya.
Mengutip catatan GAPKI, Tauhid mengatakan bahwa pekerjaan rumah Prabowo di awal-awal pemerintahannya dihadapkan pada kondisi produksi sawit dan ekspor yang turun.
Maka, menurutnya perlu upaya menggenjor sisi produksi mengingat trend kebutuhan biodiesel semakin meningkat.
Ke depan, Tauhid memproyeksikan industri minyak sawit akan menjadi tumpuan hilirisasi meskipun diperlukan tambahan perluasan lahan.
Senada, Sahat Sinaga menegaskan bahwa Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah sawit dari yang harganya saat ini hanya US$800-900 menjadi US$3.000.
Oleh karenanya, dia menyebut sejumlah produk sawit yang memiliki nilai tambah tinggi seperti bio lubricant, bahan peledak, fatty alcohol, methyl esters, liquid detergent hingga parmasi.
Sahat juga menyampaikan produk olahan dari biomass sawit bisa menghasilkan nilai tambah signifikan yang bisa difokuskan pemerintah.














