*) Ir. Achmad Hafisz Tohir
Insentif pajak dalam jangka pendek mungkin akan mengurangi penerimaan pajak, tetapi dalam jangka panjang akan mendorong laju ekonomi, asalkan dapat membuka lapangan kerja baru. Karena investasi di bawah Rp500 Miliar (U$35 juta) adalah yang paling banyak dilakukan investor. Diharapkan insentif ini dapat memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan.
Regulasi pajak tentu memiliki pengaruh lansung terhadap investasi. Apabila investor skala kecil diberikan kelonggaran pajak, maka mereka akan mendapatkan tambahan benefit dan tambahan ini akan menjadi insentif bagi para investor skala kecil. Saya setuju terhadap inisiatif pemerintah dalam hal kelonggaran fiskal ini, tetapi harus diingat bahwa regulasi baru ini tidak boleh melanggar UU.
Trend Menguatnya US Dollar terhadap Rupiah. Penguatan USD beberapa hari terakhir lebih banyak dipicu oleh meningkatnya yield US treasury bills yang hampir 3,0% serta kemungkinan kembali naiknya suku bunga Fed Fund Rate (FFR) lebih dari 3 kali dalam 2018 ini. Sehingga optimisme investor terhadap akan membaiknya prospek ekonomi AS akan membaik menjadi meningkat.
Hal ini dipacu pula oleh perang dagang AS dan China yang terjadi saat ini. Terkait hal tersebu maka Bank Indonesia harus extra hati hati sekali dalam melakukan melakukan intervensi terhadap pasar valas maupun pasar SBN (harus dalam jumlah yang terukur) dengan terus mewaspadai risiko berlanjutnya trend pelemahan nilai tukar rupiah, baik yang dipicu oleh gejolak global (dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China) maupun akibat kenaikan harga minyak dunia terhadap kemungkinan arus keluar dari pasar SBN dan saham Indonesia yang berasal dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik.














