Sebab jelas dia, jika bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan dengan tuntutan globalisasi maka hanya akan melahirkan generasi yang menjual diri bangsa dengan hanya mengandalkan sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah. Sehingga yang terjadi bukannya menyelesaikan masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi akan semakin menciptakan ketergantungan kepada negara maju karena utang luar negeri yang semakin berlipat. “Karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan link and match mendapat tempat sebagai sebuah strategi yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pendidikan. Kalau strategi ini tidak diciptakan maka kita akan terjebak dan semakin bergantung kepada utang luar negeri, teknologi, dan manajemen asing,” pungkas dia.














