Lebih lanjut, dia mengatakan,, “Kita harus meninggalkan etika antropomorfisme untuk menjadikan agama ramah lingkungan.”
Sementara itu, Romo Budi mengatakan gerakan yang dimulai dari ruang privat akan meluas ke masyarakat bila dilandasi oleh nurani untuk menjaga keutuhan ciptaan. Harus dikembangkan ekologi integral untuk menumbuhkan penghargaan kepada ciptaan.” Lebih lanjut, Romo Budi juga menegaskan pentingnya kita belajar dari St. Fransiskus Asisi yang menjadi acuan dan kerangka Paus Fransiskus dalam tugas kepausannya dan penulisan ensikli terbaru tersebut. St. Fransiskus Asisi berdamai dengan Allah, mulai dari berdamai dengan dirinya sendiri, sesama dan semesta.”
Sejumlah peserta menanggapi, antara lain Muqsit (UIN Walisongo), Anas (Unwahas), Prof Agnes (Unika Soegijapranoto) dan Ibnu Bams (eLSa) yang kesemuanya cenderung mengajak memunculkan gerakan bersama dalam rangka mengimplementasikan gagasan agama ramah lingkungan.
Suasana yang akrab dan bersaudara terbangun hingga tanpa terasa, acara yang dibuka pada pukul 17.00 dengan menonton film Samin vs Semen itu segera ditutup tepat pada pukul 21.00. Setelah ditutup pun, para peserta tidak segera pulang. Mereka masih asyik bercengkerama dalam semangat persaudaraan lintasiman di Pastoran Girli Kebon Dalem itu.













