“Dalam pelaksanaanya nanti, tentu akan terjadi supply chain yang panjang mulai dari hulu, baik itu dengan sektor peternakan maupun pertanian,” tuturnya.
Webinar tersebut juga dihadiri Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI, KH Nuruzzaman, Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo dan PIN Japan Business Development Mr. Taka Hashimoto.
“Tentunya untuk pengembangan dan pendampingan akan pasti banyak dilakukan mengingat orientasi dari KIH ini juga diantaranya adalah ekspor,” tambahnya.
Menurut KH Nuruzzaman, pencapaian nilai halal dan thayyib sebaiknya diberdayakan pada pelaku IKM dan UKM secara meluas.
Tidak hanya dari proses produksi, namun perlu ditelusur hingga ke hulu.
“Dalam hal ini, saya rasa juga peran Integrated Halal Hub akan sangat membantu jika berorientasi ekspor. Karena skema saling kepengakuan halal perlu diintegrasikan dengan berbagai lembaga penyelia halal yang ada di negara tujuan. Mereka pun harus sudah ada kerjasama dengan BPJPH agar ada saling pengakuan sertifikat halal,” ujar KH Nuruzzaman.
Sedangkan menurut Mr. Taka, produk Indonesia memiliki peluang sangat besar di pasar ekspor.
“Produk Indonesia terutama bahan pangan dan olahanya sangat diminati di Jepang karena kualitasnya yang sangat baik. Market produk halal pada dasarnya sangat besar di Jepang dan negara Asia lain, dan berkesinambungan,” ungkap Mr. Taka.















