Sebelum konklaf dimulai, para kardinal elektor berjanji dan diambil sumpahnya untuk tidak menceritakan, membocorkan tentang apa dan bagaimana yang terjadi selama konklaf.
Pelanggaran terhadap ketentuan itu adalah ekskomunikasi.
Masyarakat umum dan media hanya bisa mengira-ira dan mereka-reka.
Media, memang, biasanya menyodorkan sejumlah nama unggulan–menurut versi media dan para pengamat–atau “papabilis”, kardinal yang dipandang bisa jadi paus.
Sekarang pun demikian, sudah muncul sejumlah nama kardinal unggulan.
Misalnya, sekarang sudah beredar tak kurang dari 12 nama kardinal yang “diunggulkan”.
Meskipun, tidak menjadi jaminan bahwa yang diunggulkan akan terpilih menjadi paus.
Kardinal Jorge Mario Bergoglio, pada konklaf 2013 tidak diunggulkan, tetapi ternyata dipilih dan kemudian memilih nama Paus Fransiskus.
Kedua-belas nama kardinal itu adalah Kardinal Angelo Bagnasco (Uskup Agung emiritus Genoa), Kardibal Matteo Zuppi (Uskup Agung Bologna, Italia), Kardinal Robert Sarah (Prefek Emeritus Congregation for Divine Worship and the Disciplin of the Sacraments), Kardinal Luis Tagle (Pro-Prefect for Dicastery for Evangelization), Kardinal Malcolm Ranjith (Uskup Agung Metropolitan Colombo, Srilanka), Kardinal Pietro Parolin (Vatican Secretary State), Kardinal Pierbattista Pizzaballa (Patriark Latin Jerusalem), Kardinal Peter Erdo (Uskup Agung Metropolitan Esztergom-Budapes, Hungaria), Kardinal Willem Eijk (Uskup Agung Metropolitan Utrecht, Belanda), Kardibal Anders Arboclius (Uskup Stockholm, Swedia), Kardinal Charles Bo (Uskup Agung Yangon, Myanmar), dan Kardinal Jean-Mare Aveline (Uskup Agung Metropolitan Merseille, Perancis).














