JAKARTA – Kebijakan pemerintah yang membatasi impor hortikultura dinilai telah memberatkan industri makanan dan minuman yang selama ini menggunakan bahan baku buah impor. Sementara itu, pemerintah belum melakukan pembenahan di sektor hulu yang diharapan bisa bersinergi dengan hilir.
Hal ini seperti diutarakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman di Jakarta, Selasa (12/2). “Pembatasan impor buah akan menyulitkan industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku buah impor,” kata Adhi.
Menurut Adhi, penggunaan buah impor sebagai bahan baku makanan atau minuman pada industri lokal seolah sudah menjadi sebuah keharusan. Pasalnya, kata dia, sejauh ini proses produksi makanan dan minuman mesti melewati proses standarisasi produk, termasuk pada buah yang dijadikan bahan baku.
Sebelum menerapkan kebijakan pembatasan impor hortikultura, kata Adhi, seharusnya pemerintah terlebih dahulu membenahi sektor hulu agar tidak berdampak buruk bagi hilir. “Selama ini tidak ada kebijakan yang jelas untuk mensinergikan antara hulu dan hilir. Ini terkait dengan suplai bahan baku untuk industri,” paparnya.
Adhi mencontohkan, selama ini industri minuman berbahan baku buah dengan skala besar masih mengandalkan impor buah. “Karena, sekarang ini industri menganggap buah lokal tidak memenuhi standar untuk dijadikan bahan baku produksi minuman,” katanya.












