“Apakah itu karapan sapi atau sapi sonok, macopat, saronin, itu kekayaan-kekayaan budara Madura yang tidak boleh punah. Karena kami ada karena kekayaan-kekayaan budaya itu,” imbuh dia.
Semestinya kata Said, pemerintah memberikan tempat yang sama bagi pengembangan budaya lokal masyarakat Jawa Timur ini.
Oleh karena itu, jika Bambang-Said dipercaya masyarakat Jawa Timur untuk memimpin maka sapek sonok akan diperlakukan sama dengan karapan sapi.
“Ada piala gubernur untuk kebudayaan sapi sonok yang digelar rutin,” tutur dia.
Cawagub yang biasa disapa Bang Said ini mengaku sapek sonok ini luar biasa.
Dukungan masyarakat Madura demi kemajuan tradisi sapek sonok ini sangat besar.
”Kalau orang tidak punya keinginan yang kuat melestarikan trasidi ini, tidak mungkin memelihara sapek sonok. Bayangkan saja, biaya pemeliharaannya Rp 1 juta per bulan. Besar biayanya,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Said mengatakan upaya membawa sapek sonok ini ke pentas internasional tak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah.
Karena itu, Said berharap agar pemerintah harus turun tangan melakukan promosi tentang potensi budaya Madura ini.
“Jangan seperti sekarang ini, tidak ada perhatian dari pemerintah. Hampir tidak ada pejabat pemerintah, baik itu kabupaten atau kecamatan saat lomba sapi sonok ini. Padahal, kalau ini dikelola, bisa menjadi salah satu sumber devisa bagi masyarakat,” kata dia.














