Selama pandemi, terdapat 38% pengguna internet baru dengan rerata waktu online per harinya 4,3-4,7 jam/orang sebagaimana riset Google, Temasek, Bain, pada 2020.
Bahkan World Bank (2021) juga menyebutkan 80% UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital memiliki daya tahan lebih baik di mana 74,1% mengandalkan e-commerce; dengan profil usaha 51% adalah reseller; dan produsen hanya mencapai 11%.
Sementara asosiasi e-commerce Indonesia (IdEA) pun mencatat selama pandemi terjadi kenaikan penjualan pada platform e-commerce sebesar 25%.
Artinya, masyarakat Indonesia terutama pelaku UMKM telah keluar dari zona nyaman dan beradaptasi untuk bertahan.
“Kami terus mendorong UMKM Go-Digital dengan beberapa pendekatan yakni peningkatan literasi digital, kapasitas dan kualitas usaha. Dan perluasan pasar digital melalui Kampanye BBI, On-boarding platform pengadaan barang & jasa (LKPP, PaDI), Live Shopping, dan Sistem Informasi Ekspor UMKM,” kata Teten.
Di samping itu juga mengoptimalkan dropshipper yang memiliki rekanan UMKM lokal untuk dikerjasamakan sebagai agen penyedia produk UMKM yang sudah masuk ke dalam ekosistem digital.
Hal ini untuk memperkuat keberlanjutan dan meningkatkan transaksi UMKM yang sudah onboarding.













