Sebelumnya, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, menyampaikan, konsep TOD menjadi opsi yang akan menarik masyarakat urban berpenghasilan tanggung, yaitu sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta per bulan, yang selama ini sulit untuk membeli rumah di pusat kota karena harga yang terlalu tinggi.
“Solusi dari keterbatasan lahan untuk penyediaan hunian dengan harga terjangkau di daerah perkotaan adalah memanfaatkan lahan milik pemerintah, negara dan BUMN untuk membangun apartemen dengan konsep TOD. Ini merupakan bentuk sinergi BUMN yang paling nyata dalam Program Tiga Juta Rumah,” ujar Nixon.
Sejauh ini hunian konsep TOD menjadi tren yang diminati di berbagai kota besar di dunia, karena efisien dalam hal penggunaan lahan dan mengurangi kemacetan lalu-lintas melalui penggunaan transportasi umum.
Konsep TOD yang diusulkan BBTN, pembangunan hunian vertikal dapat dilakukan oleh PT Perumnas (Persero) di atas lahan stasiun kereta milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau lahan-lahan Pemerintah Daerah, seperti PD Pasar Jaya.
Menurut Nixon, harga jual apartemen TOD akan lebih terjangkau oleh masyarakat urban melalui KPR dengan tenor 25-30 tahun.
“Di Jakarta, contohnya, ada lebih dari 140 lokasi PD Pasar Jaya. Kalau mau kami bangun, berarti ada 140 tower. Kemudian juga ada lahan kereta api di Manggarai dan sebagainya. Jadi, banyak sebenarnya yang bisa dioptimalkan untuk perumahan kelompok urban,” ungkap Nixon.














