Namun ujian terberat datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Penjualan anjlok drastis, sementara tanggung jawab terhadap sekitar 20 karyawan tetap harus dipenuhi.
Di tengah tekanan biaya operasional dan sepinya pembeli, Marry nyaris menyerah.
“Berat sekali waktu itu. Tapi kalau ingat proses awal membangun toko ini, rasanya sayang kalau harus berhenti,” ujarnya lirih.

Bagi Marry, bertahan bukan lagi soal untung dan rugi semata. Ini tentang menjaga kehidupan puluhan keluarga yang bergantung pada usaha tersebut, sekaligus merawat denyut ekonomi Pasar Bunga Rawa Belong yang telah membesarkannya.
Pasar Bunga Rawa Belong sendiri memiliki sejarah panjang. Diresmikan sebagai pusat promosi dan pemasaran bunga dan tanaman hias pada 25 Juli 1989, kawasan ini menjadi tumpuan hidup ratusan pedagang.
Setiap hari, beragam bunga segar dengan harga relatif terjangkau tersedia, mulai dari mawar, lili, aster, sedap malam, krisan, hingga garbera.
Di sinilah Marry berharap publik kembali datang dan berbelanja langsung. Menurutnya, membeli bunga di pasar bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang pengalaman.














