Di sana, pembeli bisa melihat langsung kesegaran bunga, berbincang dengan pedagang dan merasakan denyut kehidupan pasar tradisional yang perlahan tergerus perubahan zaman.
“Kalau orang datang langsung, mereka bisa pilih sendiri bunganya, tanya-tanya, dan tahu kualitasnya. Itu yang tidak bisa digantikan belanja online,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tata kelola pasar yang belum tertib hingga minimnya perhatian pemerintah, Marry tetap percaya Pasar Bunga Rawa Belong belum kehilangan pesonanya.
Ia pun berharap pemerintah lebih aktif melibatkan pedagang dalam program pembinaan, promosi, dan penataan pasar.
Di sisi lain, Marry juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga keberlangsungan pasar dengan cara merawat kebiasaan belanja langsung.
“Pasar ini hidup karena ada pembeli. Selama masih ada yang datang, kami akan terus bertahan,” katanya tegas.
Di tengah arus modernisasi dan gempuran belanja daring, kisah Marry Rim menjadi pengingat bahwa Pasar Bunga Rawa Belong bukan sekadar tempat transaksi.
Ia adalah ruang hidup, perjuangan, dan harapan yang hanya bisa terus mekar jika publik bersedia melangkah masuk, memilih bunga, dan membawa pulang cerita dari sana.














