“Sekarang sudah 245 dapur yang aktif, target sampai 932 di Februari, sekitar April 2.000 titik. Diharapkan di tiap-tiap dapur itu, di situ akan terjadi perputaran roda ekonomi. Kami akan menerima semua produksi mau telur mau ayam dan sebagainya, diharapkan per kecamatan/kabupaten. Tidak diharapkan jual lintas kabupaten, sehingga petani/peternak itu mandiri,” ungkap Sarwono.
Ketua Pinsar Lampung Jenny Soelistiani yang hadir dalam rakor tersebut mengungkapkan optimismenya dalam berkontribusi terhadap program MBG.
“Tentu teman-teman sangat bersemangat dengan adanya program MBG. Peternak telur ini kami mengembangkan koperasi dari nasional hingga daerah. Kami harap ketika program MBG ini dilakukan di seluruh daerah, maka pelaku usaha di dareah dengan adanya koperasi akan punya link yang dekat sekali, sehingga jalur distribusinya efisien, sehingga harga di peternak juga baik, dan harga di konsumen juga baik.” jelas Jenny.
Ia juga mengungkapkan bahwa ekosistem ini pernah dibangun ketika program bantuan pangan stunting yang disalurkan pemerintah melalui penugasan NFA kepada ID FOOD pada tahun 2024,
“Kami ingin peternak (besar, menengah, dan kecil) inklusif dan semua daerah bisa bergandengan tangan, dan ini sudah kami coba waktu ada program stunting dari Badan Pangan Nasional, koperasi-koperasi ini mampu melakukan kerja bersama menyertakan seluruh peternak, sehingga jika ada kebutuhan supplai, itu kami gotong royong. Dan ini yang mendorong kestabilan pasokan dan harga telur dan daging ayam,” urainya.















