Mereka berasal dari latar belakang keluarga, pendidikan yang berbeda-beda. Medan karya mereka pun berbeda-beda, namun mereka memiliki satu roh, yakni ingin hidup mereka bermakna bagi sesama.
Andre Graff misalnya. Dia meninggalkan kenyamanan hidup di Prancis “hanya” untuk menjadi penggali sumur air bagi masyarakat miskin di Sumba, NTT. Di negaranya, dia adalah pengusaha pariwisata dan pelatih pilot balon panas. Kini sudah hampir sepuluh tahun dia tinggal di Sumba. Yang dia pikirkan setiap hari adalah bagaimana menemukan sumber air baru dan menggalinya untuk masyarakat miskin (baca di halaman 55-66).
Contoh lain Romo Franz Magnis-Suseno. Dia meninggalkan Jerman negaranya untuk menjadi misionaris dan mengembangkan studi filsafat di Indonesia. Kemudian kita mengenal Magnis dari hasil karya olah intelektualnya dalam bentuk buku, artikel, diktat, seminar, dan lain-lain. Dia adalah bidan bagi lahirnya STF Driyarkara Jakarta. Bahkan untuk kecintaannya pada Indonesia, dia melepaskan status kewarganegaraan Jermannya dan menjadi WNI. Baca kisahnya di halaman 77-86).
Buku yang sudah beredar di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya ini menghadirkan kembali semangat bela rasa terhadap orang lain. Penulis melalui para tokoh tersebut hendak membangun semangat pantang menyerah atas berbagai hambatan dalam menciptakan prestasi yang berguna bagi sesama.














