Bahkan, ada pula dengan menggunakan invoice palsu dengan harga dinaikan 100-200 persen.
“Dokumen-dokumen itu kan bisa hanya dikarang saja. Katakanlah, dalam invoice ditulis sepuluh ribu, realitasnya hanya 6 ribu atau 7 ribu saja. Paling gampang soal beras,” tutur dia.
Menurut dia, dari sisi korupsi, mendatangkan barang impor itu lebih aman.
“Kita memang tidak punya nasionalisme sampai sekarang. Nasionalisme tidak lebih jargon semata,” kritik dia.
Semestinya kata dia, pemerintah harus merubah diri agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Sebab efeknya ketergantungan impor merusak anggaran negara.
“Dampak lain, utang luar negeri kita terus bertambah,” tutur dia.
Saatnya membangun kemandirian bangsa terutama di sektor pertanian.
Indonesia tidak akan bisa bersaing selama sektor pertaniannya mengandalkan sektor pertanian di negara lain.
“Pertambahan penduduk akan semakin banyak, orang butuh makanan. Kalau pangan rakyat ini tidak terpenuhi pasti sangat terganggu,” tutur dia.
Selain pangan, Indonesia harus punya kedaulatan energy.
Kedaulatan energi sangat penting agar tidak terlalu bergangung pada negara lain.
“Mana mungkin kita nggak punya refinery atau penyulingan itu. Masa untuk penyulingan saja di kirim ke Singapura?,” tanya dia.
“Sekarang kita rugi sendiri. Misalanya, kita kirim minyak mentah untuk disuling senilai 80 dollar AS per barel. Setelah diolah disana, hasilnya menjadi 4 jenis bahan bakar minyak. Dan hasil ini dijual ke Indonesia. Senilai 4 kali 80 atau 320 dollar AS. Jadi, kita tidak mendapatkan nilai tambahnya. Kita yang punya bahan baku, masak menjadi empat kali lipat, karena hasil olan menjadi empat macam produk,” kritik dia.














