Padahal Produksi gula pada 2017 turun hanya kurang lebih 2,2 juta ton.
Tapi anehnya sejak bulan Mei 2017, lanjut Wahid, awal panen tebu sampai dengan sekarang, masyarakat tidak ada yang menjerit kukurangan atau kesulitan gula di pasar dan di ritel.
Lalu siapa yang mengisi gula kebutuhan rumah tangga? Kalau tidak gula rafinasi yang ngisi gula.
Makanya, Dirjen Perdangan Dalam Negeri jangan munafiklah dalam persoalan ini.
Menurut Wahid, peredaran gula antar pulau pasti mendapat ijin dari Disperindag daerah, masak Dirjen DN tidak tahu.
Kalau sampai Dirjen DN benar tidak tahu sebaiknya mundur dari Dirjen. Karena ini tanggung jawab Dirjen Perdagangan Dalam Negeri.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengaku mendapat laporan dari pengusaha mengenai sepinya pasar gula. K
ondisi ini membuat stok gula yang ada sulit terjual.
“Pedagang mengeluhkan pasar gula itu sepi. Masih banyak persediaannya, tapi dia tidak menyebut berapa jumlahnya ” katanya saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis (26/10).
Ia mengaku tak tahu persis apa yang menjadi penyebab sepinya perdagangan komoditas tersebut.
Sebab, Tjahya meyakini masyarakat tidak mengurangi konsumsi gula mereka.
Sepinya pasar gula kemudian membuat pengusaha khawatir.














