CIREBON-Pemerintah mengharapkan pelaku usaha rotan memanfaatkan potensi Sistem Resi Gudang (SRG). Harapan ini dikemukakan Sekretaris Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sri Nastiti, saat membuka Sosialisasi Sistem Resi Gudang (SRG) di Rattan One, Cirebon, Kamis (11/12).
Dengan mengambil tema “Sistem Resi Gudang Sebagai Alternatif Pembiayaan bagi Petani dan Pelaku Usaha Rotan dalam Menggerakkan Perekonomian Daerah”,
Nastiti meyakinkan pentingnya para pelaku usaha memanfaatkan SRG. Kebijakan menjadikan rotan sebagai salah satu komoditas yang dapat disimpan di gudang SRG karena adanya kebutuhan instrumen untuk mengatasi risiko dan akses pembiayaan bagi dunia usaha melalui implementasi SRG.
Selain itu, tujuan rotan masuk dalam komoditas SRG agar produksi rotan yang dihasilkan di daerah sentra produksi dapat diserap dengan mudah dan terjamin mutunya. “Industri rotan dalam negeri dapat menyimpan stok rotan di daerah-daerah sentra produksi,” ujarnya.
Rotan merupakan salah satu penghasil devisa negara yang cukup besar. Indonesia dikenal sebagai negara eksportir barang kerajinan berbahan dasar rotan dan sebagai pemasok bahan baku terbesar di dunia. Setiap tahun Indonesia menyuplai 80% kebutuhan rotan dunia. Sekitar 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, sisanya dihasilkan dari budidaya rotan. Industri rotan sebagian besar berlokasi di Cirebon dan sekitarnya.













